Dalam ranah Budaya Nusantara terjadinya akulturasi budaya adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Akulturasi Budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik. Akulturasi Budaya Tionghoa dengan masyarakat Nusantara salah satunya terekam dan termanifestasikan dalam sebuah pesta seni budaya yang dikenal dengan istilah Cap Go Meh – Pesta Rakyat Bogor.

Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek), dimana tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya. Secara etimologis Cap Go dari dialek Hokkian yang bermakna ‘lima belas’, Meh berati ‘malam’. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek.

Perayaan Cap Go Meh ini sangat merakyat karena dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap berkah yang diterima. Sesuai kepercayaan, bahwa dewa pembawa berkah adalah Dewa Hok Tek atau Hok Tek Tjeng Sin, oleh karena itu biasanya dalam acara Cap Go Meh, sebentuk rupang/patung perwujudan Dewa Hok Tek diarak dengan tandu berkeliling kota untuk menebar berkah kepada semua anggota masyarakat.


Menurut tradisi Tionghoa, seusai aktifitas Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut. Tradisi Cap Go Meh ini mempunyai kemiripan dengan tradisi Satu Suro di Jawa Tengah atau lebih dikenal dengan Grebeg Suro, dimana berbagai macam pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo dibawa berkeliling Keraton untuk menebar berkah kepada rakyat.

admincgmfest
Skip to toolbar